Kemping Ceria Day 2 πŸ•πŸŒ€

Aku mendengar suara-suara dari sebelah kiri dan kananku, aku membuka mata tapi langsung tidur lagi, aku ngantuk sekali karena kami hanya tidur 3 jam semalam. Tak lama kemudian Ratri, Agla dan Michelle mulai bangun, karena kami semua kebelet pipis kami keluar dari tenda dan diantar ke toilet oleh kak Putri dan kak Sari. Udara diluar sejuk sekali. Sayangnya saat itu langitnya mendung tertutup awan, padahal kalau tidak mendung kami bisa melihat bintang-bintang kecil di langit. Saat kami kembali dari toilet, kami diberi kesempatan untuk kembali ke tenda dan istirahat selama 1 jam.


1 jam telah berlalu, diluar tenda sudah sangat ramai. Sudah banyak teman-teman dari regu lain yang bangun lebih dulu. Aku dan beberapa teman-teman yang lain pergi ke aula untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. 

Kebun Organik 🌾

Jam 8:00 kami berkumpul di lapangan untuk melakukan briefing. Kami akan berkunjung ke kebun organik Loji Nenek! Ini adalah salah satu kegiatan kesukaanku saat kemping. Kami dibagi menjadi 2 kelompok, yg laki-laki dengan kak Sule, yg perempuan dengan kak Sandra. Masing-masing regu diberikan tugas mencatat. Regu tulip mendapat tugas mencatat pembuatan kompos. 

Pertama kak Sandra menjelaskan apa arti kata organik. Organik suatu proses produksi yang menggunakan bahan alami.

Setelah itu kami mengunjungi rumah semai yang didalamnya terdapat banyak wadah berisi bibit-bibit sayur seperti pakcoy dan sawi. Bibit-bibit ini tidak menggunakn plastik polybag sebagai wadah melainkan daun pisang yang dibentuk menjadi tabung.


Selain rumah semai kami berkeliling melihat ladang berbagai jenis sayuran buah-buahan, dan umbi-umbian. Ada wortel, pohon alkesa, kecombrang, nanas bahkan pohon cokelat. Aku sempat mencicipi buah cokelat, rasanya manis-manis asam, enak sekali! Sayangnya dagingnya sedikit. Kak Sandra juda menjelaskan tentang pohon alkesa yang termasuk tumbuhan langka. Menurutku tanaman ini unik, ia memiliki buah yang berbentuk seperti mangga, tekstur daging seperti ubi dan rasanya seprti buah sawo. Aku bertanya kepada kak Sandra apakah aku boleh memetik dan mencicipi buahnya. Lalu ia bilang bahwa buah yang dibawah belum ada yang matang sedangkan sudah matang ada di bagian pohon paling tinggi dan sulit untuk diambil, dan akhirnya aku tidak jadi memetiknya. 

Setelah berkeliling kami belajar membuat kompos organik. Setiap anak mendapatkan sarung tangan plastik supaya tangan kami tidak kotor karena kami juga harus mencatat saat kegiatan. Di depan kami ada 3 karung berisi bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kompos. 2 orang petani membuka karung yang berisi kotoran kambing dan ayam lalu dituang di atas terpal dan diratakan menggunakan cangkul. Kotoran hewannya tidak begitu bau. Kami diberi kesempatan untuk mencoba meratakan kotoran tersebut dengan cangkul. Setelah itu kami membuka karung kedua yang berisi sekam basah. Sekam basah ditaburkan diatas kotoran hewan sampai rata, kemudian kami menaburkan sekam kering yang diambil dari karung ketiga. Terakhir, campuran kompos disiram dengan air dan diaduk hingga rata. Ketika semuanya sudah rata, kompos ditutup pakai terpal dan didiamkan selama satu bulan. Kalau sudah satu bulan, terpal akan dibuka lagi dan komposnya diaduk, lalu ditutup kembali dan didiamkan selama satu minggu dan jadilah kompos organik!

Kegiatan berikutnya adalah membuat bekong, yaitu wadah berisi tanah yang terbuat dari daun pisang untuk menaruh benih-benih yang akan ditanam. Aku senang membuat bekong karena cara membuatnya mudah. 

Di dekat tempat kami membuat bekong, ada lahan perkebunan yang ditanam pakcoy. kami mencabut sebagian pakcoy dari lahannya, lalu dicuci.

Masak-masak πŸ₯—πŸ³

Setelah dicuci sampai bersih, kami menaruh pakcoy di dalam plastik. Kami diberi tantangan untuk memasak sayuran yang kami panen. Kami disediakan garam, bawang putih, bawang merah, telur (maksimal 2 butir), minyak, kaldu ayam, dan daun bawang. Kami juga boleh barter sayuran dengan regu lain.

Regu tulip berkumpul di depan tenda regu 2 putri Oase. Michelle pergi ke dapur untuk mengambil bahan-bahan sedangkan anggota lain berdiskusi mau masak apa. Akhirnya kami memutuskan untuk memasak fuyung hay dan tumis sayur. Saat memasak, kami panik dan teriak-teriak, karena api kompor terlalu besar dan telat memasukkan bahan-bahan. Walaupun begitu, kami mengerjakannya dengan riang gembira. Sayangnya aku tidak sempat mencicipi masakannya, karena sudah dihabiskan oleh teman-teman lain. 

Karya kardus πŸ“¦πŸ“✂️

Siangnya kami membuat istana kardus yang didampingi oleh kak Sanjay kami diberikan karton berukuran 50 : 50, sebuah cutter dan penggaris, pensil, lem dan kertas petunjuk. Aku membaca semua instruksi yang ada di kertas itu. Langkah pertama adalah mengukur dan menggambar pola untuk dipotong. Aku mengambil 3 buah cutter dari tempat pensil kak Sanjay dam membagikannya kepada aggota kelompokku. Kerja kami jadi cepat dan akhirnya selesai pertama. Aku senang dengan kegiatan ini dan berpikir untung membuatnya di rumah.

Literasi πŸ“πŸŽ€

Selesai makn malam ada kegiatan literasi di aula, masing-masing regu membuat drama/piusi/lagu tentang pengalaman yang paling membekas di ingatan kami selama kemping ceria. Kami ditemani kak Vera, pembina gugus depan Pulokambing. Kami diberi waktu 30 menit untuk berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk membuat puisi. 

Saat kami selesai membuat puisi, kami diberi secarik kertas untuk menulis dan menilai penampilan regu lain. 

Regu tulip maju ke depan dan membaca puisi yang kami buat bersama. Kami bergantian membaca puisinya. Jujur saya, aku kurang puas dengan penampilan kami. Tetapi kami mendapatkan tepuk tangan meriah dari regu lain. 


Komentar

Postingan Populer